Tuesday, February 5, 2013

NEGARA DALAM KUASA KAPITALISME




Oleh: Muhammad Muhibbuddin
Mbah Manto, yang berusia 78 tahun bersama lima keluarga miskin lainnya: Parjono; Heru Marjono; Prayitno; Edi Sukarno hingga kini masih mendekam kedinginan di emperan gedung DPRD Yogyakarta. Rumah kelima keluarga miskin itu, pada  28 Januari 2013 yang lalu, telah dibuldoser oleh pemerintah Yogya. Mbah Manto dkk dituduh sebagai warga ilegal yang menempati tanah Kraton dan oleh sebab itu rumah mereka digusur. Sekarang rumah itu tinggal puing-puingnya. Jelas melihat rumahnya yang telah rata dengan tanah itu, kelima keluarga miskin tersebut remuk hatinya. Karena itu, sekarang mereka berhari-hari menginap di gedung DPRD Yogyakarta untuk mengais keadilan (kalau masih ada).
Negara dan pasar versus rakyat
Sejak kapan Mbah Manto dkk dituduh sebagai masyarakat liar yang ilegal oleh pemerintah Yogyakarta di tanah sengekat itu? Perlu diketahui bahwa Mbah Manto dkk menempati tanah senegketa itu sudah berpuluh-puluh tahun. Tanah yang ditempati oleh kelima keluarga rakyat kecil itu terletak di kampung Suryowijayan, Gedongkiwo, Mantrijeron. Tanah ini statusnya adalah tanah milik Kraton. Untuk bisa menempati tanah itu secara legal, maka Mbah Manto dkk harus mendapatkan ijin atau dalam istilah feodalnya surat kekancingan. Sebenarnya Mbah Manto dkk sudah mengajukan surat kekancingan itu ke Kraton. Tapi tidak pernah digubris. Maklum orang kecil.
Hingga tibalah saatnya pada 1997: seorang predator, pengusaha kapitalis-borjuis kelas kakap yang bernama Cahyo Antono membeli tanah dan membangun rumah di dekat tanah Kraton yang ditempati oleh Mbah Manto dkk.. tanah dan rumah milik Cahyo itu agak menjorok ke dalam. Keberadaannya telah dihalang-halangi oleh rumah orang-orang miskin tersebut. Sebab, kebetulan rumah Mbah Manto dkk memang terletak di depan jalan raya. Keberadaan rumah orang-orang miskin ini dirasa Cahyo sangat mengganggu. Gara-gara rumah-rumah orang-ornag kecil ini, rumah dan tanah Cahyo terhalang-halangi. Dari soal menghalang-halangi inilah Cahyo, si penguasaha kapitalis-borjuis mempunyai niat jahat:  menggusur rumah orang-orang kecil itu.
Langkah awal Cahyo untuk menggusur rumah-rumah orang-orang kecil itu adalah dengan melobi pihak Kraton (Sultan). Sebab, Cahyo juga tahu bahwa tanah yang ditempati Mbah manto dkk adalah tanah milik Kraton dan dia juga tahu bahwa kelima keluarga miskin itu tidak mempunyai surat kekancingan (surat ijin pakai) dari Kraton. Mengetahui kelima keluarga miskin itu tidak mempunyai surat kekancingan,  maka Cahyo pada 2003 mengajukan surat kekancingan pada pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai seorang pengusaha besar di Yogya, pada tahun itu juga Cahyo langsung mendapatkan surat kekancingan dari Kraton.
Setelah mendapatkan surat sakti dari Kraton itulah, Cahyo langsung mewujudkan niat busuknya. Dia mulai menggugat kelima keluarga itu ke pengadilan. Sidang pun digelar. Sebuah peperangan antara rakyat kecil melawan penguasaha yang berkolaborasi dengan penguasa. Sebuah kekuatan yang tidak seimbang. Maka hasilnya pun sudah bisa ditebak: Mbah Manto dan kawan-kawannya kalah telak. Pada  tahun2009 PN. Yogyakarta memutuskan bahwa Mbah Manto dkk harus pergi dari lokasi Tetapi, kelima keluarga itu tetap melawan. Mereka mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Namun memang orang kecil, maka kelima keluarga itu tetap dinyatakan bersalah dan harus segera pergi. Mbah Manto dkk tetap tidak puas. Mereka melakukan banding tertinggi, ke Mahkamah asgung (MA). Namun hasilnya tetap sia-sia. MA tetap memutuskan hal yang sama. Dengan keputusan pengadilan yang jauh dari nilai-nilai keadilan itulah, rumah Mbah Manto dkk digusur secara paksa. Tamatlah riwayat orang-orang kecil ini. Mereka sekarang menjadi gelandangan tanpa ada jaminan bisa mempunyai rumah baru meskipun sederhana.
Pertanyaannya, kenapa hanya Chayo, si pengusaha yang dikasih surat ijin oleh Kraton dan bukannya dengan Mbah Manto dkk?. Kraton beralasan bahwa ia tidak memberi surat kekancingan terhadap Mbah Manto dan kawan-kawan itu karena tanah yang ditempati oleh Mbah Manto itu termasuk ROI (region of interest) jalan. Kata Sultan (Kamis, 31/1/2012), dirinya takut dituntut oleh pemerintah kota kalau seandainya dia memberikan ijin bangunan di kawasan ROI. Sebuah alasan yang lucu dan kekanakan. Kalau memang tanah sengketa itu dikatakan sebagai tanah milik Kraton, sehingga untuk menempatinya harus meminta ijin kepada Kraton, maka kenapa Sultan justru takut dengan pemerintah kota? Bukankah kekuasaan Sultan dalam kepemilikan tanah itu lebih kuat daripada pemerintah kota?. Selain itu, yang tinggal di kawasan ROI itu sebenarnya bukan hanya kelima keluarga yang digusur itu, melainkan ada banyak orang yang tinggal di kawasan itu. Logikanya kalau memang alasannya adalah soal kawasan jalan, semuanya yang menempati magersari itu seharusnya digusur sehingga bukan hanya tidak hanya lima warga itu.
Dari penjelasan di atas jelas bahwa telah terjadi konspirasi besar antara negara (Kraton) dengan pasar (Penguasha) untuk menindas rakyat kecil. Telah terjadi persekongkolan busuk antara penguasa dengan pemodal untuk  membungkam hak-hak rakyat kecil. Inilah fenomena politik di era neolibral. Di mana, rakyat kecil menjadi korban penindasan baru oleh persekongkolan dua kekuatan besar: negara dan pasar (penguasa dan pemilik modal). Rakyat kemudian harus berjuang sendirian melawan dua predator besar itu. Dalam konspirasi inilah, maka musuh utama rakyat sekarang ini bukan hanya para kapitais-borjuis; para korporasi multinasional, melainkan juga pemerintah dengan segenap aparatnya.
Negara sebagai anjing penjaga kapitalis
Dalam konspirasi di atas, jelas negara hanya berfungsi menjadi jongos, budak dan anjing penjaga kepentingan para pemodal. Negara tidak lagi bisa diharapkan sebagai pelindung dan pemberi ekadilan universal terhadap rakyatnya. Sebab, kedaulatam negara telah dibeli oleh pihak kapitalis. Negara dalam kuasa kapitalis ini kemudian hanya menjadi instrumen kontrol bagi kelas dominan, yakni kapitalis itu sendiri terhadap rakyat. Dalam bahasanya Marx  negara tidak lain adalah produk kontradiksi kelas dan perjuangan kelas, dan secara ekonomis semua itu dikontrol oleh kelas yang dominan. Siapakah kelas dominan itu? Dalam kuasa kapitalisme kelas dominan itu tidak lain adalah para pemodal atau kapitalis-borjuis itu sendiri. Negara borjuis itu kemudian menjadi alat untuk mengontrol dan mengeksploitasi rakyat oleh kaum kapitalis. Aset-aset negara yang seharusnya digunakan untuk sebesar-besarnya  kesejahteraan rakyat, kahirnya hanya menjadi ladang eksploitasi dan akumulasi modal bagi para kapitalis.
Atas dasar itu kemudian jelas bahwa negara kapitalis-borjuis disetting untuk menguntungkan segelintir elit dan memiskinkan rakyat banyak. Tidak mungkin negara kapitalis yang benar-benar mempunyai niat untuk mensejahterakan rakyatnya secara universal. Sebab itu akan kontradiksi dengan logika dasar kapitalis: yakni meingkatkan keuntungan material sebesar-besarnya melalui eksploitasi rakyat kecil. Karena itu benar kata Marx, negara dalam kuasa kapitaisme-borjuis adalah  mesin penindas bagi sebuah kelompok untuk kelompok lainnya. Terminologi negara sebagai instrumen penindasan bagi kelas tertentu ini juga diafirmasi oleh Weber. Bagi Weber, Negara adalah Suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam menggunakan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.
Saatnya revolusi rakyat dikobarkan
Karena itu, kalau rakyat tidak ingin terus-menerus ditindas dan dimarginalkan oleh negara yang berada di bawah ketiak kapitalis, maka rakyat perlu bangkit melakukan perjuangan revolusioner. Perjuangan revolusi ini orientasinya adalah untuk merubah struktur negara total sehingga negara yang awalnya hanya menjadi alat penindasan bagi kaum kapitalis-borjuis  terhadap rakyat, bisa bertranfromasi menjadi alat untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan bersama. Terkait dengan persoalan revolusi ini Marx (Poverty of Philosophy, 1936: 174 atau 182 dalam edisi Jerman) menyatakan bahwa kelas buruh dalam proses perkembangannya akan menggantikan masyarakat lama borjuis dengan perserikatan yang akan menyingkirkan kelas-kelas beserta pertentangannya, dan tidak akan ada lagi kekuasaan politik apapun yang sebenarnya, karena kekuasaan politik adalah justru pernyataan resmi dari antagonisme kelas dalam masyarakat borjuis.
Kasus Mbah Manto dkk di atas jelas bukan satu-satunya. Di mana-mana kasus penggusuran dan pemiskinan terhadap warga masyarakat akar rumput sering terjadi secara sewenang. Dan itu umumny dilakukan oleh negara yang berkomplot dengan para pemodal. Maka selama negara borjuis-kpitalis ini masih eksis, entah itu dalam sistem monarki atau demokrasi, maka rakyat kecil yang merupakan pihak mayoritas tetap tidak akan memperoleh hak-haknya secara proporsioanl dan adil. Karena itu untuk mengakhiri kekejaman yang terlegalkan dari para predator borjuis ini, satu-satunya jalan adalah mengobarkan gerakan revolusi rakyat.





Wednesday, January 23, 2013

TUHAN, ATHEISME DAN PROBLEM KEDEWASAAN


TUHAN, ATHEISME DAN PROBLEM KEDEWASAAN
Oleh: Muhammad Muhibbuddin

Ada seorang koruptor yang mencuri uang rakyat miliaran rupiah. Ketika perbuatannya itu tidak terendus KPK, sang koruptor pun senang dan kemudian berkata: “Tuhan telah menyelamatkanku dari incaran KPK. Alhamdulillah”!. Bukan hanya itu, sang koruptor menggelar syukuran besar-besaran karena menganggap bahwa dirinya diselamatkan Tuhan dari cengkraman KPK. KPK kemudian menjadi sosok yang paling ditakuti daripada Tuhan itu sendiri. Di sisi lain ada juga seorang pejabat. Pejabat ini mengaku sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt. Bahkan setiap kali bicara di hadapan rakyatnya selalu menganjurkan rasa takut dan patuh kepada Allah Swt. Setiap kali bicara, term-term keagamaan pun membanjir deras dari mulutnya: Masya Allah, Allah ya Kariim, Subhnallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar dan seterusnya. Pokoknya “Tuhan” banget!. Namun pejabat ini mempunyai banyak hobi, salah satunya adalah selingkuh. Setiap kali selingkuh yang ditakutkan bukan Tuhan, melainkan istri dan rakyatnya. Dia benar-benar sangat takut dan malu kalau sampai istri dan rakyatnya mengetahui skandalnya itu. Setiap kali selingkuh dan tidak diketahui oleh istri dan rakyatnya, sang pejabat pun bilang: “Alhmadulillah ya Allah, istri dan rakyatku tidak tahu kalau aku selingkuh” dan dia pun selalu rajin berdo’a. salah satu tujuan do’anya adalah skandalnya bisa tertutupi dari mata istri dan rakyatnya. Kemudian ada seorang anak sekolah yang tengah menghadapi ujian. Pada malam harinya dia berdo’a mudah-mudahan dia bisa mengerjakan soal-soal itu dan lulus ujian. Saat keinginannya itu tercapai; dia mendapatkan nilai bagus dan lulus ujian, maka dia pun bersyukur kepada Tuhan karena merasa do’anya dikabulkan.
Itu adalah sekelumit cerita soal Tuhan. Tuhan hingga kini masih dipersepsikan sebagai sosok yang sangat personal dan fungsional. Dalam konteks ini Tuhan kemudian dipandang sebagai pelindung, penyelamat dan pengayom bagi siapa saja, tak terkecuali bagi para koruptor dan pejabat yang menyeleweng. Bukan hanya para ulama, orang bijak dan  anak sekolah yang sedang ujian, para penjahat negara pun merasa berhak meminta perlindungan dari Tuhan atas segala tindak kejahatannya. Dalam konteks fungsionalitas inilah Tuhan diyakini keberadaanNya. Tuhan ada karena oleh manusia dipandang sebagai sosok yang bisa melindungi dan menyelamatkan. Tuhan ada karena manusia  membutuhkan sosokNya sebagai kekuatan penolong atas segala problematika kehidupannya. Tuhan ada karena manusia membutuhkan semacam sandaran bagi segala persoalan hidupnya, termasuk misteri yang melingkupinya. Tuhan ada sejauh manusia dilanda ketakutan dan ketidakberdayaan. Tuhan ada sejauh manusia mempersepsikanNya sebagai Sang Mesiah, Sang Penyelamat, Sang Pencipta dan sebagainya. Tuhan ada sejauh manusia didera inferioritas kompleks dan tak kuasa menghadapi kenyataan hidupnya. Kalau memang demikian, benar-benar adakah Tuhan? Kalau Tuhan ada sejauh manusia membutuhkan kedigdayaanNya, apakah Tuhan atau Allah benar-benar ada sebagaimana adaNya (Das ding ansich)?
Tuhan Sebagai  Paradigma
Sejarah soal Tuhan sangat terkait dengan usaha manusia untuk memaknai dan memahami dunia. Sejak kelahirannya manusia selalu berusaha mempertanyakan, menginvestigasi dan memahami dunia yang didiaminya. Hal ini karena memang dunia yang didiami manusia syarat dengan misteri dan kompleksitas persoalan yang tak terperi. Dalam usahanya itu, manusia selalu menemukan banyak cara untuk memahami dan memaknai dunia, yang tentu saja sesuai dengan kapaistas nalar dan intelektualnya. Karena itu pemahaman dan pemaknaan atas manusia selalu berkembang seusia dengan perkembangan inteleknya. Pengetahuan-pengetahuan baru manusia selalu muncul sebagai konsekuensi dari usahanya yang tak henti-hentinya memaknai dunia. Dengan pengetahuan –pengetahuan baru ini pula, bisa memajukan kualitas kehidupannya. Dengan usaha memahami dunia yang tiada henti pula, manusia selalu bisa merekonstruksi peradabannya.
Sebagai bagian dari proses pemaknaan dan pemahamannya terhadap dunia itulah muncul beragam paradigma, pola pikir, cara nalar yang diciptakan manusia dari generasi ke generasi. Paradigma atau pola pikir manusia yang paling purba untuk memahami dunia dan kehidupan alam semesta adaah pola pikir mitologis. Mitos diciptakan manusia sebagai kerangka berfikir dalam memahami dunia dan alam semesta.  Dalam mitos-mitos ini manusia meyakini dewa-dewa yang menguasai dunia. Dari pola pikir mitologis inilah cara menalar manusia terhadap dunia dan alam semesta kemudian terus mengalami perkembangan. Hingga pada suatu saat muncullah agama sebagai pola pikir baru bagi manusia. Agama dengan demikian, merupakan bagian strategi manusia untuk memahami dunia dan alam semesta sebagaimana mitos yang telah eksis sebelumnya.  Seperti kata John Farndon dkk (The History of Civilization: The Great Landmarks in the Development of Mankind,  2003:6) bahwa sebagaimana manusia berpikir tentang alam dunia dan posisi mereka di dalamnya, mereka mengembangkan mitos-mitos dan kepercayaan agama untuk memahami dunia dan alam semesta.
Pola pikir religius, sebenarnya secara esensial tidak jauh berbeda dengan pola pikir mitologis. Bagaimana pola pikir religius itu? yakni pola pikir yang bertolak dari pemahaman bahwa aspek-aspke kehidupan yang tidak mudah dinalar, tidak bisa dijelaskan dengan rasio atau nalar sehat, maka akan diyakini sebagai kenyataan yang dikuasai oleh sesuatu yang superior, entah itu roh-roh transenden,  Tuhan atau dewa---kalau dalam era mitologi. Bedanya dengan era mitologi, kalau realitas superior yang di era mitologi itu disebut dewa (god), maka pada era agama realitas superior itu berubah menjadi Tuhan atau Allah (God). Baik dewa (god) maupun Tuhan atau Allah (God), mencerminkan cara nalar manusia yang sama, yakni pola pikir yang meyakini adanya kekuatan yang serba Maha di luar diri manusia. Dari keyakinan ini muncullah ritual-ritual, tata cara penyembahan yang oleh kaum agama disebut dengan ibadah. Kalau dalam mitologi diteguhkan bahwa ada banyak dewa di balik yang kasat mata, maka dalam tradisi agama, khususnya dalam tradisi monotheisme diteguhkan bahwa ada Yang Satu yang berada di balik yang kasat mata. Yang Satu inilah yang menguasai seluruh kehidupan dan alam semesta, termasuk manusia. Seluruh alam material, berasal dariNya dan ada dalam genggamanNya. Dari Yang Satu ini pula, dalam Islam, muncul teori Wahdatul Wujud. Munculnya teori Wahdatul Wujud konon dilator belakangi oleh sebuah kegelisahan untuk menjawab hubungan antara Yang Satu dan yang jamak (alam material). Sementara itu, Ibnu Shina menyebut Yang Satu itu sebagai Wajibul Wujud dan yang jamak (alam material) disebutnya sebagai Mumkinul Wujud.
Dari situ kemudian jelas bahwa yang disebut dengan Tuhan, Allah, Elohim, Yahweh, God dan sebagainya tidak lain adalah sebuah paradigma atau pola pikir manusia paska pola pikir mitos. Kenapa Tuhan dalam konteks ini disebut paradigma? Karena dalam konteks agama, Tuhan menjadi kata kunci (key word) untuk menjelaskan dan memahami seluk beluk kehidupan dan alam semesta, bahkan menjadi dasar untuk memahami kehidupan sosial manusia. Tuhan dalam agama, kalau dalam pemikirannya Marx kemudian menjadi semacam Materialisme Dialektis: sebuah kerangka berpikir untuk memahami kenyataan sosial-masyarakat. Penjelasan apapun soal kenyataan, soal kehidupan, soal masyarakat, soal kosmologis, dalam agama selalu bertolak dari Tuhan.
Tuhan dalam agama, selain sebagai basis ontologi, juga menjadi dasar epistemologi. Melalui Tuhan, seluruh pengetahuan dalam agama, baik di alam fisik maupun non-fisik, bisa dimungkinkan. Hal ini terutama pengetahuan soal kehidupan paska kematian. Sebagaimana dalam teori moralnya Kant bahwa supaya kehidupan paska kematian bisa dimungkinkan dan tindakan manusia bisa dipertanggung jawabkan, maka mau tidak mau Yang Maha Sempurna, atau Tuhan, mesti ada. Tuhan atau Allah menjadi dasar bagi munculnya pengetahuan, termasuk di wilayah eskatologi. Dalam wilayah kosmologi dan sosiologi, Tuhan juga menjadi dasar pengetahuan yang sentral. Apa yang terjadi di dunia, baik dalam ranah kosmologi maupun sosiologi, merupakan bayangan pucat Tuhan. Karena itulah, Tuhan kemudian juga dipersepsikan sebagai tempat bergantung, sebagai pusat sandaran bagi seluruh kehidupan di muka bumi. Tuhan kemudian tidak benar-benar ada sebagaimana adanya. Ia hanya ada karena dikonstruk oleh pikiran manusia sebagai paradigma.
Pola Pikir Kekanakan dan Ketidak warasan
Sebagai sebuah paradigma, pola pikir yang berbasis pada Tuhan sebenarnya pola pikir yang kekanak-kanakan, pola pikir anak kecil. Kalau Tuhan dipahami sebagai pusat dan sandaran, yang eksistensinya diyakini sangat personal dan fungsional sehingga bisa menyelamatkan, melindungi, mengayomi, mengutuk, menyiksa, menghentikan banjir, menimbulkan gempa bumi, menyebarkan penyakit, menaburkan rizqi dan sebagainya, sehingga manusia harus berbondong-bondong mengemis kasih sayangNya, maka jelas ini merupakan pola pikir kekanak-kanakan. Bahkan Frued menyatakan bahwa pola pikir agama adalah penyakit syaraf kekanak-kanakan dan Tuhan merupakan proyeksi seorang bapak. Dalam konteks pemikiran Frued ini, agama atau Tuhan malah menjadi semacam penyakit kejiwaan. Sebagaimana juga Marx yang menegaskan bahwa agama merupakan symptoma: gejala penyakit jiwa bagi manusia atas segala ketidakberdayaannya dalam kehidupan material.
Atas segala kektidakberdayaannya, manusia kiemudian berpaling, mereka-reka tentang sesuatu yang serba Maha yang disebut Tuhan atau Allah dan kemudian memeluknya sebagai penyelamat. Atas segala kebingungan dan ketakutannya, manusia kemudian lari dari kenyataan dirinya sendiri dan kemudian lari menuju sebuah titik yang diproyeksikan oleh imajinasinya sendiri sebagai sandaran, sebagai benteng pertahanan diri. Dari sinilah kemudian nampak bahwa Tuhan merupakan fata morgana soal sebuah oase yang muncul akibat jiwa manusia yang dilanda kekeringan dan kehausan yang amat sangat. Sebuah telaga seolah hadir dalam kenyataan akibat kegugupan, ketidaksatbilan mental dan ketidakberdayaan manusia. Padahal telaga itu hanya fatamorgana. Dengan ketidaksatbilannya itu apapun diharapkan muncul oleh manusia sebagai pegangan, termasuk Tuhan. Namun yang tidak disadari oleh manusia adalah pegangan atau sandaran yang disebut Tuhan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar adanya, melainkan sebatas ilusi atau halusinasi atas ketidakstabilan mental manusia sendiri. Inilah jelas bentuk pola pikir bagi manusia yang belum matang mental dan eksistensinya.
Pola pikir manusia yang masih menghamba pada sosok superior transenden yang direkayasa sendiri oleh pikiran dan imajinasinya; sebuah pola pikir yang bukan hanya kekanakan, tetapi juga gila. Pola pikir agama seperti itu, tidak ada bedanya dengan pola pikir kaum pagan yang membuat patung sendiri untuk disembah-sembah dan dimintai pertolongan. Hanya bedanya, kaum agamawan mewujudkan Tuhannya itu dalam bentuk halusinasi dan ilusinya, sementara kaum pagan mewujudkan Tuhannya dalam bentuk benda-benda materi. Jadi Tuhan adalah potret pola pikir manusia yang belum dewasa dan  tidak waras.
Atheisme Scientific dan Kedewasaan
Kalau memang Tuhan atau agama adalah wujud pola pikir yang kekanak-kanakan, pola pikir yang tidak waras, maka manusia perlu merubah paradigmanya supaya menjadi dewasa dan waras. Manusia perlu dari kungkungan Tuhan untuk menuju kedewasaannya dan kewarasannya. Dalam konteks ini Atheisme perlu menjadi pilihan manusia. Atheisme bukan dijadikan sebagai ideologi atau dogma, melainkan juga harus diposisikan sebagai paradigma, sebagai metoda berpikir untuk menggantikan pola pikir agama yang berbasis pada Tuhan. Dalam paradigma Atheism itulah, maka manusia harus sadar bahwa Tuhan tidak ada sehingga percuma meminta suaka kepada Tuhan. Satu-satunya kekuatan yang bisa menolong manusia adalah dirinya sendiri. Manusia harus berani meneguhkan eksistensinya sendiri di luar baying-bayang Tuhan. Manusia harus berani hidup di atas kakinya sendiri yang terlepas dari bayang-bayang realitas transenden sebagai sandaran.
Manusia harus mampu memaknai dunia, harus mampu mamahami dunianya dengan dirinya sendiri, tanpa bertolak dari konsep soal Tuhan. Bagaimanapun konsep soal Tuhan yang dijadikan sebagai paradigma untuk memahami dunia sekarang sudah tidak relevan lagi. Tuhan untuk saat ini justru mencerminkan kebodohan manusia ketika dijadikan sebagai dasar pemahaman manusia soal dunia dan alam semesta. Tuhan lahir dari kebodohan dan ketakutan, begitulah kata Lucretius. Benar, manusia sepanjang masih berada dalam ruang kebodohan, ia akan lari kepada Tuhan. Selain sumber kebodohan, Tuhan juga menjadi sumber inresposibelity. Apa yang terjadi didunia  sejatinya adalah hasil tindak laku manusia, dalam skala apapun, namun semua itu justru dialamatkan kepada Tuhan. Karena itu, sepanjang manusia masih di bawah bayang-bayang soal Tuhan manusia selamanya tidak akan pernah dewasa,  sehingga juga tidak pernah mau bertanggung jawab atas diri dan kehidupannya. Apa-apa selalu diserahkan kepada Tuhan.
Segala persoalan dan misteri yang melingkupi kehidupan manusia, harus dipecahkan berdasarkan analisis antropologis, dan bukannya analisis teosentris. Analisis teosentris jelas sudah kedalu warsa sehingga tidak layak digunakan untuk era sekarang. Atheisme adalah usaha untuk memahami dna memaknai dunia dan alam semesta secara antropologis, pemahaman terhadap dunia dan kehidupan yang bertolak dari eksistensi manusia itu sendiri di sini dan sekarang ini, bukan berdasarkan atas realitas yang ada di sebrang sana. Memang harus diakui bahwa  manusia adalah terbatas. Tetapi justru keterbatasan inilah yang harus dipandang manusia sebagai tantangan: bagaimana manusia selalu bisa melampaui keterbatasannya. Bukankah Nietzsche sudah berfatwa: “Manusia itu sesuatu yang harus dilampaui…sampai sekarang semua makhluq telah menciptakan sesuatu yang melamapaui diri mereka sendiri. apakah kalian memilih untuk menjadi arus balik dari arus pasang agung itu dan lebih suka kembali menjadi binatang daripada melampaui manusia?”. Kalau manusia tidak hendak menjadi bodoh dan kekanakan selamanya, maka sekarang perlu merubah paradigmanya dari teosentris ke antroposentris, dari agama ke atheis.
Sebagai ganti dari paradigmanya yang teosentris itu, maka sekarang manusia perlu mendasarkan paradgmanya pada sains dalam memahamni dunia dan kehiduannya. Manusia cukup membutuhakn diri dan rasionya dalam menguak misteri jagat raya dan perlu mengenyahkan Tuhan sebagai konsekuensinya.  Dengan atheism scientific manusia bisa bebas memaknai dan memahami dunia tanpa perlu mandek dan terkungkung oleh kekuatan superior bernama Tuhan. Dengan sains, pemahaman yang berdasarkan pada wahyu Tuhan tidak diperlukan lagi. Karena wahyu Tuhan itu sendiri ketika berhadapan dengan sains maka akan menjadi mitos. Wahyu bisa keluar dari mitos kalau dia dirasionalisasikan. Sepanjang dia hanya diyakini maka selamanya akan menjadi mitos.Sainslah yang sekarang ini layak dijadikan sebagai alat untuk menguak kerumitan dan bukannya Tuhan. Berbagai hal yang sebelumnya tidak terpikirkan dan bahkan dimitoskan atau disakralkan oleh agama, satu per satu runtuh karena terkuak oleh sains.  Richard Dawkins menyatakan bahwa sains memberi kita penjelasan tentang bagaimana kompleksitas (kerumitan) muncul dari simplisitas. Sebaliknya, lanjut Dawkins, hipotesis tentang Tuhan tidak memberikan penjelasan apapun, karena ia hanya mempostulatkan apa yang justru ingin kita jelaskan. Ia mempostulatkan betapa sulitnya mencari penjelasan semaam itu dan membiarkannya begitu saja.
Penjelasan soal dunia dalam koridor atheisme yang bertumpu pada sains, akan memberikan enjelasanyang lebih segar daripada penjelasan yang berbasis pada Tuhan. Dengan penjelasan yang berbasis pada atheism dan sains ini, maka Tuhan dengan sendirina aan tergusur. Sebab, penjelasan dan pemahaman soal dunia yang berbasis pada atheisme adalah penjelasan dan pemahaman dunia yang mencukupkan diri pada eksistensi manusia dan alam semesta. Semesta tidak perlu ditransendensikan sebagai realitas supra-rasional. Ia harus dipahami sebagai realitas material yang ada. Kalau semesta sekedar ada, di manakah tempat bagi sang Pencipta? Begitulah kata Stephen Hawking.  Jadi, sudah saatnya sekarang atheism yang bertumpu pada sains dijadikan sebagai paradigma baru untuk memahami dan memaknai dunia. Hal ini untuk membawa manusia pada pola pikir yang dewasa.

Tuhan, Atheisme dan Problem Kedewasaan


TUHAN, ATHEISME DAN PROBLEM KEDEWASAAN
Oleh: Muhammad Muhibbuddin

Ada seorang koruptor yang mencuri uang rakyat miliaran rupiah. Ketika perbuatannya itu tidak terendus KPK, sang koruptor pun senang dan kemudian berkata: “Tuhan telah menyelamatkanku dari incaran KPK. Alhamdulillah”!. Bukan hanya itu, sang koruptor menggelar syukuran besar-besaran karena menganggap bahwa dirinya diselamatkan Tuhan dari cengkraman KPK. KPK kemudian menjadi sosok yang paling ditakuti daripada Tuhan itu sendiri. Di sisi lain ada juga seorang pejabat. Pejabat ini mengaku sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt. Bahkan setiap kali bicara di hadapan rakyatnya selalu menganjurkan rasa takut dan patuh kepada Allah Swt. Setiap kali bicara, term-term keagamaan pun membanjir deras dari mulutnya: Masya Allah, Allah ya Kariim, Subhnallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar dan seterusnya. Pokoknya “Tuhan” banget!. Namun pejabat ini mempunyai banyak hobi, salah satunya adalah selingkuh. Setiap kali selingkuh yang ditakutkan bukan Tuhan, melainkan istri dan rakyatnya. Dia benar-benar sangat takut dan malu kalau sampai istri dan rakyatnya mengetahui skandalnya itu. Setiap kali selingkuh dan tidak diketahui oleh istri dan rakyatnya, sang pejabat pun bilang: “Alhmadulillah ya Allah, istri dan rakyatku tidak tahu kalau aku selingkuh” dan dia pun selalu rajin berdo’a. salah satu tujuan do’anya adalah skandalnya bisa tertutupi dari mata istri dan rakyatnya. Kemudian ada seorang anak sekolah yang tengah menghadapi ujian. Pada malam harinya dia berdo’a mudah-mudahan dia bisa mengerjakan soal-soal itu dan lulus ujian. Saat keinginannya itu tercapai; dia mendapatkan nilai bagus dan lulus ujian, maka dia pun bersyukur kepada Tuhan karena merasa do’anya dikabulkan.
Itu adalah sekelumit cerita soal Tuhan. Tuhan hingga kini masih dipersepsikan sebagai sosok yang sangat personal dan fungsional. Dalam konteks ini Tuhan kemudian dipandang sebagai pelindung, penyelamat dan pengayom bagi siapa saja, tak terkecuali bagi para koruptor dan pejabat yang menyeleweng. Bukan hanya para ulama, orang bijak dan  anak sekolah yang sedang ujian, para penjahat negara pun merasa berhak meminta perlindungan dari Tuhan atas segala tindak kejahatannya. Dalam konteks fungsionalitas inilah Tuhan diyakini keberadaanNya. Tuhan ada karena oleh manusia dipandang sebagai sosok yang bisa melindungi dan menyelamatkan. Tuhan ada karena manusia  membutuhkan sosokNya sebagai kekuatan penolong atas segala problematika kehidupannya. Tuhan ada karena manusia membutuhkan semacam sandaran bagi segala persoalan hidupnya, termasuk misteri yang melingkupinya. Tuhan ada sejauh manusia dilanda ketakutan dan ketidakberdayaan. Tuhan ada sejauh manusia mempersepsikanNya sebagai Sang Mesiah, Sang Penyelamat, Sang Pencipta dan sebagainya. Tuhan ada sejauh manusia didera inferioritas kompleks dan tak kuasa menghadapi kenyataan hidupnya. Kalau memang demikian, benar-benar adakah Tuhan? Kalau Tuhan ada sejauh manusia membutuhkan kedigdayaanNya, apakah Tuhan atau Allah benar-benar ada sebagaimana adaNya (Das ding ansich)?
Tuhan Sebagai  Paradigma
Sejarah soal Tuhan sangat terkait dengan usaha manusia untuk memaknai dan memahami dunia. Sejak kelahirannya manusia selalu berusaha mempertanyakan, menginvestigasi dan memahami dunia yang didiaminya. Hal ini karena memang dunia yang didiami manusia syarat dengan misteri dan kompleksitas persoalan yang tak terperi. Dalam usahanya itu, manusia selalu menemukan banyak cara untuk memahami dan memaknai dunia, yang tentu saja sesuai dengan kapaistas nalar dan intelektualnya. Karena itu pemahaman dan pemaknaan atas manusia selalu berkembang seusia dengan perkembangan inteleknya. Pengetahuan-pengetahuan baru manusia selalu muncul sebagai konsekuensi dari usahanya yang tak henti-hentinya memaknai dunia. Dengan pengetahuan –pengetahuan baru ini pula, bisa memajukan kualitas kehidupannya. Dengan usaha memahami dunia yang tiada henti pula, manusia selalu bisa merekonstruksi peradabannya.
Sebagai bagian dari proses pemaknaan dan pemahamannya terhadap dunia itulah muncul beragam paradigma, pola pikir, cara nalar yang diciptakan manusia dari generasi ke generasi. Paradigma atau pola pikir manusia yang paling purba untuk memahami dunia dan kehidupan alam semesta adaah pola pikir mitologis. Mitos diciptakan manusia sebagai kerangka berfikir dalam memahami dunia dan alam semesta.  Dalam mitos-mitos ini manusia meyakini dewa-dewa yang menguasai dunia. Dari pola pikir mitologis inilah cara menalar manusia terhadap dunia dan alam semesta kemudian terus mengalami perkembangan. Hingga pada suatu saat muncullah agama sebagai pola pikir baru bagi manusia. Agama dengan demikian, merupakan bagian strategi manusia untuk memahami dunia dan alam semesta sebagaimana mitos yang telah eksis sebelumnya.  Seperti kata John Farndon dkk (The History of Civilization: The Great Landmarks in the Development of Mankind,  2003:6) bahwa sebagaimana manusia berpikir tentang alam dunia dan posisi mereka di dalamnya, mereka mengembangkan mitos-mitos dan kepercayaan agama untuk memahami dunia dan alam semesta.
Pola pikir religius, sebenarnya secara esensial tidak jauh berbeda dengan pola pikir mitologis. Bagaimana pola pikir religius itu? yakni pola pikir yang bertolak dari pemahaman bahwa aspek-aspke kehidupan yang tidak mudah dinalar, tidak bisa dijelaskan dengan rasio atau nalar sehat, maka akan diyakini sebagai kenyataan yang dikuasai oleh sesuatu yang superior, entah itu roh-roh transenden,  Tuhan atau dewa---kalau dalam era mitologi. Bedanya dengan era mitologi, kalau realitas superior yang di era mitologi itu disebut dewa (god), maka pada era agama realitas superior itu berubah menjadi Tuhan atau Allah (God). Baik dewa (god) maupun Tuhan atau Allah (God), mencerminkan cara nalar manusia yang sama, yakni pola pikir yang meyakini adanya kekuatan yang serba Maha di luar diri manusia. Dari keyakinan ini muncullah ritual-ritual, tata cara penyembahan yang oleh kaum agama disebut dengan ibadah. Kalau dalam mitologi diteguhkan bahwa ada banyak dewa di balik yang kasat mata, maka dalam tradisi agama, khususnya dalam tradisi monotheisme diteguhkan bahwa ada Yang Satu yang berada di balik yang kasat mata. Yang Satu inilah yang menguasai seluruh kehidupan dan alam semesta, termasuk manusia. Seluruh alam material, berasal dariNya dan ada dalam genggamanNya. Dari Yang Satu ini pula, dalam Islam, muncul teori Wahdatul Wujud. Munculnya teori Wahdatul Wujud konon dilator belakangi oleh sebuah kegelisahan untuk menjawab hubungan antara Yang Satu dan yang jamak (alam material). Sementara itu, Ibnu Shina menyebut Yang Satu itu sebagai Wajibul Wujud dan yang jamak (alam material) disebutnya sebagai Mumkinul Wujud.
Dari situ kemudian jelas bahwa yang disebut dengan Tuhan, Allah, Elohim, Yahweh, God dan sebagainya tidak lain adalah sebuah paradigma atau pola pikir manusia paska pola pikir mitos. Kenapa Tuhan dalam konteks ini disebut paradigma? Karena dalam konteks agama, Tuhan menjadi kata kunci (key word) untuk menjelaskan dan memahami seluk beluk kehidupan dan alam semesta, bahkan menjadi dasar untuk memahami kehidupan sosial manusia. Tuhan dalam agama, kalau dalam pemikirannya Marx kemudian menjadi semacam Materialisme Dialektis: sebuah kerangka berpikir untuk memahami kenyataan sosial-masyarakat. Penjelasan apapun soal kenyataan, soal kehidupan, soal masyarakat, soal kosmologis, dalam agama selalu bertolak dari Tuhan.
Tuhan dalam agama, selain sebagai basis ontologi, juga menjadi dasar epistemologi. Melalui Tuhan, seluruh pengetahuan dalam agama, baik di alam fisik maupun non-fisik, bisa dimungkinkan. Hal ini terutama pengetahuan soal kehidupan paska kematian. Sebagaimana dalam teori moralnya Kant bahwa supaya kehidupan paska kematian bisa dimungkinkan dan tindakan manusia bisa dipertanggung jawabkan, maka mau tidak mau Yang Maha Sempurna, atau Tuhan, mesti ada. Tuhan atau Allah menjadi dasar bagi munculnya pengetahuan, termasuk di wilayah eskatologi. Dalam wilayah kosmologi dan sosiologi, Tuhan juga menjadi dasar pengetahuan yang sentral. Apa yang terjadi di dunia, baik dalam ranah kosmologi maupun sosiologi, merupakan bayangan pucat Tuhan. Karena itulah, Tuhan kemudian juga dipersepsikan sebagai tempat bergantung, sebagai pusat sandaran bagi seluruh kehidupan di muka bumi. Tuhan kemudian tidak benar-benar ada sebagaimana adanya. Ia hanya ada karena dikonstruk oleh pikiran manusia sebagai paradigma.
Pola Pikir Kekanakan dan Ketidak warasan
Sebagai sebuah paradigma, pola pikir yang berbasis pada Tuhan sebenarnya pola pikir yang kekanak-kanakan, pola pikir anak kecil. Kalau Tuhan dipahami sebagai pusat dan sandaran, yang eksistensinya diyakini sangat personal dan fungsional sehingga bisa menyelamatkan, melindungi, mengayomi, mengutuk, menyiksa, menghentikan banjir, menimbulkan gempa bumi, menyebarkan penyakit, menaburkan rizqi dan sebagainya, sehingga manusia harus berbondong-bondong mengemis kasih sayangNya, maka jelas ini merupakan pola pikir kekanak-kanakan. Bahkan Frued menyatakan bahwa pola pikir agama adalah penyakit syaraf kekanak-kanakan dan Tuhan merupakan proyeksi seorang bapak. Dalam konteks pemikiran Frued ini, agama atau Tuhan malah menjadi semacam penyakit kejiwaan. Sebagaimana juga Marx yang menegaskan bahwa agama merupakan symptoma: gejala penyakit jiwa bagi manusia atas segala ketidakberdayaannya dalam kehidupan material.
Atas segala kektidakberdayaannya, manusia kiemudian berpaling, mereka-reka tentang sesuatu yang serba Maha yang disebut Tuhan atau Allah dan kemudian memeluknya sebagai penyelamat. Atas segala kebingungan dan ketakutannya, manusia kemudian lari dari kenyataan dirinya sendiri dan kemudian lari menuju sebuah titik yang diproyeksikan oleh imajinasinya sendiri sebagai sandaran, sebagai benteng pertahanan diri. Dari sinilah kemudian nampak bahwa Tuhan merupakan fata morgana soal sebuah oase yang muncul akibat jiwa manusia yang dilanda kekeringan dan kehausan yang amat sangat. Sebuah telaga seolah hadir dalam kenyataan akibat kegugupan, ketidaksatbilan mental dan ketidakberdayaan manusia. Padahal telaga itu hanya fatamorgana. Dengan ketidaksatbilannya itu apapun diharapkan muncul oleh manusia sebagai pegangan, termasuk Tuhan. Namun yang tidak disadari oleh manusia adalah pegangan atau sandaran yang disebut Tuhan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar adanya, melainkan sebatas ilusi atau halusinasi atas ketidakstabilan mental manusia sendiri. Inilah jelas bentuk pola pikir bagi manusia yang belum matang mental dan eksistensinya.
Pola pikir manusia yang masih menghamba pada sosok superior transenden yang direkayasa sendiri oleh pikiran dan imajinasinya; sebuah pola pikir yang bukan hanya kekanakan, tetapi juga gila. Pola pikir agama seperti itu, tidak ada bedanya dengan pola pikir kaum pagan yang membuat patung sendiri untuk disembah-sembah dan dimintai pertolongan. Hanya bedanya, kaum agamawan mewujudkan Tuhannya itu dalam bentuk halusinasi dan ilusinya, sementara kaum pagan mewujudkan Tuhannya dalam bentuk benda-benda materi. Jadi Tuhan adalah potret pola pikir manusia yang belum dewasa dan  tidak waras.
Atheisme Scientific dan Kedewasaan
Kalau memang Tuhan atau agama adalah wujud pola pikir yang kekanak-kanakan, pola pikir yang tidak waras, maka manusia perlu merubah paradigmanya supaya menjadi dewasa dan waras. Manusia perlu dari kungkungan Tuhan untuk menuju kedewasaannya dan kewarasannya. Dalam konteks ini Atheisme perlu menjadi pilihan manusia. Atheisme bukan dijadikan sebagai ideologi atau dogma, melainkan juga harus diposisikan sebagai paradigma, sebagai metoda berpikir untuk menggantikan pola pikir agama yang berbasis pada Tuhan. Dalam paradigma Atheism itulah, maka manusia harus sadar bahwa Tuhan tidak ada sehingga percuma meminta suaka kepada Tuhan. Satu-satunya kekuatan yang bisa menolong manusia adalah dirinya sendiri. Manusia harus berani meneguhkan eksistensinya sendiri di luar baying-bayang Tuhan. Manusia harus berani hidup di atas kakinya sendiri yang terlepas dari bayang-bayang realitas transenden sebagai sandaran.
Manusia harus mampu memaknai dunia, harus mampu mamahami dunianya dengan dirinya sendiri, tanpa bertolak dari konsep soal Tuhan. Bagaimanapun konsep soal Tuhan yang dijadikan sebagai paradigma untuk memahami dunia sekarang sudah tidak relevan lagi. Tuhan untuk saat ini justru mencerminkan kebodohan manusia ketika dijadikan sebagai dasar pemahaman manusia soal dunia dan alam semesta. Tuhan lahir dari kebodohan dan ketakutan, begitulah kata Lucretius. Benar, manusia sepanjang masih berada dalam ruang kebodohan, ia akan lari kepada Tuhan. Selain sumber kebodohan, Tuhan juga menjadi sumber inresposibelity. Apa yang terjadi didunia  sejatinya adalah hasil tindak laku manusia, dalam skala apapun, namun semua itu justru dialamatkan kepada Tuhan. Karena itu, sepanjang manusia masih di bawah bayang-bayang soal Tuhan manusia selamanya tidak akan pernah dewasa,  sehingga juga tidak pernah mau bertanggung jawab atas diri dan kehidupannya. Apa-apa selalu diserahkan kepada Tuhan.
Segala persoalan dan misteri yang melingkupi kehidupan manusia, harus dipecahkan berdasarkan analisis antropologis, dan bukannya analisis teosentris. Analisis teosentris jelas sudah kedalu warsa sehingga tidak layak digunakan untuk era sekarang. Atheisme adalah usaha untuk memahami dna memaknai dunia dan alam semesta secara antropologis, pemahaman terhadap dunia dan kehidupan yang bertolak dari eksistensi manusia itu sendiri di sini dan sekarang ini, bukan berdasarkan atas realitas yang ada di sebrang sana. Memang harus diakui bahwa  manusia adalah terbatas. Tetapi justru keterbatasan inilah yang harus dipandang manusia sebagai tantangan: bagaimana manusia selalu bisa melampaui keterbatasannya. Bukankah Nietzsche sudah berfatwa: “Manusia itu sesuatu yang harus dilampaui…sampai sekarang semua makhluq telah menciptakan sesuatu yang melamapaui diri mereka sendiri. apakah kalian memilih untuk menjadi arus balik dari arus pasang agung itu dan lebih suka kembali menjadi binatang daripada melampaui manusia?”. Kalau manusia tidak hendak menjadi bodoh dan kekanakan selamanya, maka sekarang perlu merubah paradigmanya dari teosentris ke antroposentris, dari agama ke atheis.
Sebagai ganti dari paradigmanya yang teosentris itu, maka sekarang manusia perlu mendasarkan paradgmanya pada sains dalam memahamni dunia dan kehiduannya. Manusia cukup membutuhakn diri dan rasionya dalam menguak misteri jagat raya dan perlu mengenyahkan Tuhan sebagai konsekuensinya.  Dengan atheism scientific manusia bisa bebas memaknai dan memahami dunia tanpa perlu mandek dan terkungkung oleh kekuatan superior bernama Tuhan. Dengan sains, pemahaman yang berdasarkan pada wahyu Tuhan tidak diperlukan lagi. Karena wahyu Tuhan itu sendiri ketika berhadapan dengan sains maka akan menjadi mitos. Wahyu bisa keluar dari mitos kalau dia dirasionalisasikan. Sepanjang dia hanya diyakini maka selamanya akan menjadi mitos.Sainslah yang sekarang ini layak dijadikan sebagai alat untuk menguak kerumitan dan bukannya Tuhan. Berbagai hal yang sebelumnya tidak terpikirkan dan bahkan dimitoskan atau disakralkan oleh agama, satu per satu runtuh karena terkuak oleh sains.  Richard Dawkins menyatakan bahwa sains memberi kita penjelasan tentang bagaimana kompleksitas (kerumitan) muncul dari simplisitas. Sebaliknya, lanjut Dawkins, hipotesis tentang Tuhan tidak memberikan penjelasan apapun, karena ia hanya mempostulatkan apa yang justru ingin kita jelaskan. Ia mempostulatkan betapa sulitnya mencari penjelasan semaam itu dan membiarkannya begitu saja.
Penjelasan soal dunia dalam koridor atheisme yang bertumpu pada sains, akan memberikan enjelasanyang lebih segar daripada penjelasan yang berbasis pada Tuhan. Dengan penjelasan yang berbasis pada atheism dan sains ini, maka Tuhan dengan sendirina aan tergusur. Sebab, penjelasan dan pemahaman soal dunia yang berbasis pada atheisme adalah penjelasan dan pemahaman dunia yang mencukupkan diri pada eksistensi manusia dan alam semesta. Semesta tidak perlu ditransendensikan sebagai realitas supra-rasional. Ia harus dipahami sebagai realitas material yang ada. Kalau semesta sekedar ada, di manakah tempat bagi sang Pencipta? Begitulah kata Stephen Hawking.  Jadi, sudah saatnya sekarang atheism yang bertumpu pada sains dijadikan sebagai paradigma baru untuk memahami dan memaknai dunia. Hal ini untuk membawa manusia pada pola pikir yang dewasa.

Friday, February 24, 2012

PERLAWANAN SENI TERHADAP RADIKALISME AGAMA


Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Seniman Bramanthyo Prijosusilo, Rabo (15/2) dikeroyok oleh puluhan anggota Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Aksi pengeroyokan laskar MMI itu terkait dengan pertunjukan seni Social Sculpture (Patung Sosial) Bramanthyo yang berjudul “Melawan Kerusakan Atas Nama Agama”. Pertunjukan seni ini merupakan usaha Bramanthyo untuk melawan gerakan radikalisme agama yang sampai sekarang terus menggejala. Aksi Bramanthyo ini tergolong berani karena digelar secara langsung (live) di depan markas MMI Yoya, Jl. Karanglo 94, Bantul, Yogyakarta.Akibat tindakannya itu, sekretaris MMI, Shabbarin Syakur melaporkan Bramanthyo ke POLDA DIY dengan tuduhan melakukan kegiatan seni yang bernuansa SARA (Kompas:Kamis,16/2/2012). Namun, Bramanthyo tidak peduli dengan tuntutan hukum MMI itu. Dia tetap akan terus berjuang melawan anarkhisme dan radikalisme kelompok agama melalui jalur seni.

Ekspresi kreatif Seniman
Ekspresi Bramanthyo tersebut adalah bagian dari ekspresi kreatif seorang seniman. Ekspresi kreatif, kata Muji Sutrisno (Teks-Teks Kunci Estetika: 2005), merupakan tanggapan dari renungan seniman terhadap kehidupan masyarakatnya. Apa yang ditampilkan oleh Bramanthyo lewat aksi keseninya itu merupakan wujud kegelisahannya terhadap persoalan masyarakatnya. Persoalan itu adalah aksi radikalisme, anakhisme dan tindak kekerasan yang dibungkus agama. Sebuah kekerasan yang dianggap absah dan wajar hanya karena ditampilkan dalam performance religius. Akibatnya adalah menggejalanya absurditas nilai dan penyesatan pemikiran.Aksi kekerasan dan tindakan bar-bar kemudian dipahami sebagai bentuk “jihad suci”, tindakan arogansi, intoleransi dan menang sendiri  dianggap sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar. Tak jarang aksi-aksi semacam ini kerap melanda masyarakat dan salah satu sasarannya adalah para seniman.
Seniman dengan  imaji-imajinya yang liar sebagai bentuk refeleksi kritis dan inovatif terhadap realitas sering menjadi sasaran teror para kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu. Namun, apa yang digelisahkan oleh para seniman, termasuk oleh Bramanthyo tersebut, tentu bukan hanya menyangkut persoalan yang menimpa dunianya sendiri, melainkan mencakup wilayah yang lebih luas. Fenomena radikalisme dan kekerasan atas nama agama, adalah problem sosial yang menimpa seluruh masyarakat. Banyak elemen masyarakat yang dirugikan oleh gerakan ini. Sebuah agama yang sejatinya mengandung nilai-nilai luhur juga akhirnya tercoreng disebabkan oleh ulah kelompok radikal dan anarkhis.
Faktornya sebenarnya sederhana. Para kelompok radikal itu tidak siap untuk menerima perbedaan. Mereka rata-rata berpikiran monolitik yang melihat realitas hanya berdasarkan prinsip hitam- putih. Paradigma yang digunakan adalah opsisi biner:  mukmin-kafir, theis-atheis, surga-neraka dan seterusnya. Padahal kenyataannya realitas kehidupan begitu kaya warna bahkan kompleks yang tidak bisa direduksi ke dalam ukuran-ukuran yang serba hitam-putih tersebut. Pola-pola berpikir yang hitam putih semacam itu akhirnya menggiring masyarakat ke dalam budaya berpikir dangkal. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai yang dipakemkannya maka itu dianggap bid’ah dan bahkan murtad sehingga halal dirusak. Pola pikir semacam ini hingga sekarang masih terus menggeliat di tengah masyarakat. Maka wajar kalau benturan antar umat beragama maupun antar kelompok sosial lainnya, yang seharusnya tidak perlu terjadi justru menjadi tontonan sehari-hari.
 Radikalisme dan anarkhisme berbaju agama  kemudian adalah penyakit yang menimbulkan ketidaknyamanan di tengah kehidupan bersama. Eksistensi kehidupan sosial menjadi terancam. Relasi sosial dan kemanusiaan yang menjadi pilar bagi tegaknya harmoni dan perdamaian antar sesama indifidu dan kelompok menjadi tercabik-cabik. Sehingga wajar kalau fenomena radikalisme dan kekerasan berlatar belakang agama kemudian menjadi kegelisahan para pihak, termasuk dari kalangan seniman, khususnya Bramanthyo.
Dengan keliaran dan kebebasan imajinasi-reflekstifnya, Bramanthyo mengolah kegelisahannya itu menjadi suguhan kreasi estetis yang sarat dengan gugatan-gugatan kritis. Hal ini dtampilkan sebagai usaha untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan sosial yang akut yakni radikalisme agama. Melalui aksi pertunjukan seninya, Bramanthyo bukan sekedar berusaha menunjukan kreasi imajinasinya yang unik, melainkan menyuguhkan sebuah persoalan yang cenderung dilupakan masyarakat. Fenomena itu sekarang bahkan semakin tumbuh subur bagai cendawan di musim hujan.
Karena itu, perlu memang sosok-sosok  seperti Bramanthyo, yang berani dan mampu menyajikan suguhan-suguhan kreatif dan kritis untuk membangunkan kesadaran masyarakat yang saat ini tengah terlelap akibat terus menerus tertindas oleh berbagai macam persoalan termasuk kekerasan atas nama agama.
Salah alamat
Apa yang digelisahkan dan dikritik oleh Bramanthyo adalah gejala radikalisme, anarkhisme dan kekerasan yang dibalut dengan baju agama. Karena itu tidak tepat dan salah alamat kalau MMI memperkarakan Bramanthyo dengan tuduhan berbuat SARA. Pada prinsipnya, Bramanthyo tidak mempermasalahkan jenis agama,suku atau kelompok apapun. Yang dia persoalkan adalah pola pikir atau paradigma berpikir sekelompok masyarakat. Kalau yang diangkat oleh Bramanthyo itu adalah budaya radikalisme dan anarkhisme, maka itu lebih tertuju pada paradigma dan pola berpikir sebuah masyarakat dalam memandang persoalan, bukan kepada organisasi atau kelompok tertentu misalnya MMI.
Sebab, gejala radikalisme itu adalah persoalan budaya dan pemikiran yang bisa tumbuh di mana-mana. Bahkan kelompok-kelompok agama yang mengklaim paling moderat pun faktanya masih bisa terjangkiti oleh budaya radikalisme dan anarkhisme. Kalau MMI misalnya menjadi salah satu sasaran kritik Bramanthyo, pada dasarnya bukan eksistensi MMI yang dipersoalkan oleh Bramanthyo melainkan pola pikir MMI yang dianggap radikal dan anarkhis.  Benarkah MMI tidak radikal dan tidak anarkhis? Ini yang harus dijawab oleh MMI.
*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota diskusi filsafat ZAT Community Yogyakarta

ESTETIKA DAKWAH DALAM SEKATEN

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

Secara historis budaya Sekaten muncul pada tahun 1939 Caka atau 1477 Masehi, ketika Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara yang didukung oleh Wali Songo mendirikann Masjid Agung Demak. Dalam musyawarah para wali itu tercetus ide tentang  digelarnya kegiatan dakwah Islam yang Syi’ar  secara kontinyu selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W sekaligus untuk memperingati maulid Nabi.  Ide itu disebut Sekaten. Sekaten merupakan cara yang khas masyarakat Jawa dalam memperingati milad (hari lahir) Nabi SAW. Karena orientasi acara ini adalah untuk dakwah maka tentu perlu mendapatkan simpati atau perhatian masyarakat.
  Agar kegiatan tersebut menarik perhatian masyarakat luas, dibunyikanlah dua perangkat gamelan  buah karya Sunan Giri dengan membawakan gending-gending ciptaan para wali, khususnya dari Sunan Kalijaga. Hingga kini penabuhan dua gamelan itu dijadikan sebagai tanda untuk memulai acara besar Sekaten. Di Yogya sekarang dua gamelan itu dinamakan, Kiai Guntur Madu dan Kiai Nagawilaga. Pembukaan acara Sekaten di Yogya dimulai dengan penabuhan dua “kiai gamelan “tersebut.Setelah mengikuti kegiatan tersebut, konon masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun mengucapkan dua kalimah syahadat atau yang disebut dengan syahadatain. Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah Sekaten yang berlaku secara populer sampai sekarang.
 Islam dan Seni
Satu hal yang menarik dari fenomena Sekaten tersebut adalah bahwa seni dan estetika ternyata bukanlah barang haram dalam Islam. Dalam sejarahnya yang panjang di bumi Nusantara, seni dan estetika  bisa berjalan seirama dengan Islam dan terbukti menjadi medium efektif untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman ke tengah  masyarakat. Maka sungguh heran dan  tidak masuk akal kalau di Indonesia ada kelompok  umat Islam yang dengan gampangnya membid’ahkan atau malah mengharamkan bentuk-bentuk kesenian dan budaya dalam masyarakat; dengan entengnya mereka menyebut bahwa Islam dan seni tidak bisa dipertemukan. Pandangan semacam  ini selain mereduksi dimensi keagamaan, juga menunjukkan kekerdilan dan kedangkalan pemikiran. Mereka yang membid’ahkan dan mengharamkan seni, kaitannya dengan agama, secara jelas hanya melihat bentuk luaran sebuah seni tanpa melihat muatan nilai yang terkandung di dalamnya.
Pola dakwah  yang dikemas dalam bentuk kesenian tersebut merupakan karya genius para wali dulu untuk menyebarkan ajaran agama ke tengah masyarakat secara damai dan indah. Keindahan adalah unsur primordial dalam diri manusia. Kecenderungan  jiwa manusia di antaranya adalah menyukai hal-hal indah. Ini memang sesuatu yang wajar. Sebab, manusia memang  sejak lahir dianugerahi jiwa dan potensi estetika . Dengan jiwa estetikanya inilah manusia bisa menikmati dan memaknai sebuah keindahan  yang ada di sekelilingnya. Karena itu, seni pada prinsipnya bukan hanya relevan dengan agama, tetapi lebih dari itu adalah refleksi dari fitrah manusia. Sebagai hasil dari olah dan penggalian potensi fitrah kehidupan manusia seni tidak mungkin dilepaskan dari kehidupan, terutama dari kehidupan masyarakat yang berkebudayaan dan berperadaban.
Dalam konteks yang lebih luas, seni atau estetika, pada prinsipnya juga berfungsi sebagaimana agama yani medium untuk memahami realitas. Ini terkait dengan  manusia sebagai makhluq yang berbudaya, yang mana ia tidak hanya hidup secara alami dan menuruti instingnya saja, tetapi mampu menanyakan dan mempersoalkan keberadaannya di dunia. Karena itu ia terus mempertanyakan, mencoba mencari jawaban atas berbagai misteri dan teka-teki hidup yang melingkupi dirinya. Dari sini lahirlah berbagai sudut pandang. Ada sudut pandang yang terbentuk dari indra, rasio dan intuisi atau perasaan. Seni adalah bagian dari sudut pandang untuk memahami dunia. Bahkan menurut Schopenhauer, seni merupakan jalan untuk mengetahui dunia noumenal. Schopenhauer membagi dua jalan dalam memahami dunia, yaitu jalan sains dan jalan seni. Jalan sains merupakan jalan yang dipakai untuk memahami dunia fenomenal (dunia obyektif), sementara  dunia noumenal bisa diketahui melalui jalan  seni. Dalam memahami dunia  noumenal ini tidak ada lagi distingsi antara subyek-obyek, keduanya lebur dalam  kesatuan.
Dalam pemahaman semacam inilah, seni dan agama (teologi atau tasawuf) pada prinsipnya tidak bertentangan melainkan bisa saling mendukung untuk menguak realitas. Dan pada level sosial, seni menjadi daya tarik tersendiri dalam mengkomunkasikan dan mensosialisasikan nilai-nilai agama.
Miskin estetika
Seiring dengan perubahan zaman, dakwah sekarang justru semakin miskin estetika. Karena itu wajar kalau sekarang dakwah sama sekali tidak menarik. Bahkan yang seringkali terjadi dakwah sekarang lebih banyak muncul dalam bentuk teriakan kasar, penghujatan, ancaman, teror, intimidasi, memaki dan menyesatkan orang lain. Karena itu wajar, kalau Islam yang sejatinya indah dan menarik, kemudian berubah menjadi fenomena yang tidak menarik, karena ulah para pemeluknya yang miskin estetika dalam menyampaikan dan  mensosialisasikannya ke publik.
Bercermin dari Sekaten jelas bahwa cara dakwah para wali dulu lebih genius daripada da’i-da’i sekarang. Para wali itu bukan hanya mampu merefleksikan ajaran-ajaran Islam secara mendalam, tetapi juga mampu menyampaikan ajaran-ajaran itu dengan indah dan estetis. Sebaliknya, untuk berdakwah, da’i sekarang hanya mencukupkan diri menghafal satu dua ayat kemudian menafsirkannya secara literal dan ditambah dengan hujatan bid’ah,  kafir no!  atau retorika Islam  kaffah. Sungguh memalukan!.

*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota forum studi filsafat ZAT Community Yogyakarta