Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

PHYTAGORAS, MATEMATIKAWAN DAN FILOSOF HANDAL



Oleh :Muhammad Muhibbuddin*



Pythagoras (582 SM – 496 SM, bahasa Yunani: Πυθαγόρας) adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal sebagai "Bapak Bilangan", dia memberikan sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM.  Kehidupan dan ajarannya tidak begitu jelas akibat banyaknya legenda dan kisah-kisah buatan mengenai dirinya. Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Teorinya inilah yang memberi sumbngsih besar terhadap ilmu-ilmu pasti lainnya termasuk ilmu arsitektur.
Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis. Pythagoras dan murid-muridnya percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus beritme. Ia percaya keindahan matematika disebabkan segala fenomena alam dapat dinyatakan dalam bilangan-bilangan atau perbandingan bilangan. Terdapat legenda yang menyatakan bahwa ketika muridnya Hippasus menemukan bahwa , hipotenusa dari segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi siku-siku masing-masing 1, adalah bilangan irasional, murid-murid Pythagoras lainnya memutuskan untuk membunuhnya karena tidak dapat membantah bukti yang diajukan Hippasus.
Dalam tradisi Yunani, diceritakan bahwa ia banyak melakukan safari perjalanan ke berbagai negara, diantaranya ke Mesir. Pengemabraan intelektualnya inolah yang menbuat dirinya mampu menggali ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan metafisika.Perjalanan Phytagoras ke Mesir merupakan salah satu bentuk usahanya untuk berguru, menimba ilmu, pada imam-imam dan ilmuwan di Mesir. Konon, karena kecerdasannya yang luar biasa, para imam yang dikunjunginya merasa tidak sanggup untuk menerima Phytagoras sebagai murid mereka. Namun, pada akhirnya ia diterima sebagai murid oleh para imam di Thebe. Disinilah ia belajar berbagai macam misteri. Selain itu, Phytagoras juga berguru pada imam-imam Caldei untuk belajar Astronomi, pada para imam Phoenesia untuk belajar Logistik dan Geometri, pada para Magi untuk belajar ritus-ritus mistik, dan dalam perjumpaannya dengan Zarathustra, ia belajar teori perlawanan.
Selepas berkelana untuk mencari ilmu, Phytagoras kembali ke Samos dan meneruskan pencarian filsafatnya serta menjadi guru untuk anak Polycartes, penguasa tiran di Samos. Kira-kira pada tahun 530, karena tidak setuju dengan pemerintahan Tyrannos Polycartes, ia berpindah ke kota Kroton di Italia Selatan. Di kota ini, Phytagoras mendirikan sebuah tarekat beragama yang kemudian dikenal dengan sebutan “Thariqat Phytagorean.” Thariqat inilah yang kemudian menjadi penerus pemikirna-pemikirn Phytagoras.
 Kaum phytagorean adalah kelompok yang sangat berjasa dalam meneruskan pemikiran-pemikiran Phytagoras. Semboyan mereka yang terkenal adalah “authos epha, ipse dixit” (dia sendiri yang telah mengatakan demikian). Kaum ini diorganisir dan dibentuk berdasarkan aturan-aturan hidup bersama, dan setiap orang wajib menaatinya. Mereka menganggap filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup, sebagai medium untuk setiap orang menjadi tahir, sehingga luput dari perpindahan jiwa terus-menerus. Diantara pengikut-pengikut Phytagoras di kemudian hari berkembang dua aliran. Yang pertama disebut akusmatikoi (akusma = apa yang telah didengar; peraturan): mereka mengindahkan penyucian dengan menaati semua peraturan secara seksama. Yang kedua disebut mathematikoi (mathesis = ilmu pengetahuan): mereka mengutamakan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pasti.
Dalam ranah pemikirannya, Phytagoras percaya bahwa angka bukan unsur seperti udara dan air yang banyak dipercaya sebagai unsur semua benda. Angka bukan anasir alam. Pada dasarnya kaum Phytagorean menganggap bahwa pandangan Anaximandros tentang to Apeiron (yang tak terbatas) dekat juga dengan pandangan Phytagoras. To Apeiron melepaskan unsur-unsur berlawanan agar terjadi keseimbangan atau keadilan (dikhe). Pandangan Phytagoras mengungkapkan bahwa harmoni terjadi berkat angka. Bila segala hal adalah angka, maka hal ini tidak saja berarti bahwa segalanya bisa dihitung, dinilai dan diukur dengan angka dalam hubungan yang proporsional dan teratur, melainkan berkat angka-angka itu segala sesuatu menjadi harmonis, seimbang.
 Dengan kata lain tata tertib, harmoni dan keseimbangan terjadi melalui angka-angka.Ini merupakan bukan sekedar kajian matematika, melainkan lebih dari itu adalah kajian soal filsafat matematika. Sebab, yang dikaji Phytagoras bukan sekedar angka melainkan hakekat di balik angka-angka. Angka-angka inilah yang juga diaitkan dengan alam semesta (kosmos). Ia percaya keindahan matematika disebabkan segala fenomena alam dapat dinyatakan dalam bilangan-bilangan atau perbandingan bilangan Salah satu peninggalan Phytagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia lah yang pertama membuktikan pengamatan ini secara matematis. Pythagoras dan murid-muridnya percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus beritme. Ketika muridnya Hippasus menemukan bahwa \sqrt{2}, hipotenusa dari segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi siku-siku masing-masing 1, adalah bilangan irasional, Pythagoras memutuskan untuk membunuhnya karena tidak dapat membantah bukti yang diajukan Hippasus.
*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota diskusi filsafat “ZAT Community” Yogyakarta.

AL-FARGHANI, PELOPOR DAN PAKAR ASTRONOMI





Oleh : Muhammad Muhibbuddin*


 Al-Farghani (wafat 870 M), dipandang sebagai salah satu ahli astronomi terbesar yang pernah hidup, yang berasal dari Uzbekistan. Nama lengkapnya adalah Abu Abas Al-Farghani. Ia dikenal dengan Al-Farghani karena berasal dari Farghana, sebuah daerah yang berada di dekat sungai Sardaria, Uzbekistan.
Pada masa khalifah Al-Makmun, ia menjadi ilmuwan yang dipercaya oleh khalifah.berbagai observasi telah dilakukan. Kerja kerasnya pun menghasilkan penemuan fenomenal. Dengan semangat kerja keras dan observasinya, dia berhasil membuat jadwal Apogee (Apogeum) dan Perigee (Perigeium) untuk masing-masing Planet dengan menggunakan sistem korespondensi Episikel ke dalam berbagai eksentritisitas dan elips yang ternyata menjadi pola astronomi moderrn. Ia banyak melakukan pengamatan dan penelitian terhadap benda-benda angkasa pada sebuah observatorium di Bagdad, yang dibangun semenjak khalifah Al-Makmun. Dalam sejumlah risetnya terhadap benda-benda runag angkasa, ia berhasil menghimpun data-data tentang Apoge, yakni titik terjauh dan Perige, yaitu tentang titik terdekat pada lintasan benda-benda angkasa dari Bumi. Teorinya yang terkenal berbunyi, "Makin lonjong bentuk lintasannya, maka semakin besar perbedaan antara Apoge dan Perige".
Disamping itu, ia juga pernah melakukan eksperimen untuk menentukan diameter Bumi. Karya-karya utamanya di antaranya adalah Kitab Ushul Falaq (Prinsip-Prinisp Astronomi), The Element of Astronomy (Unsur-unsur astronomi), Kitab Jawami’ Al-Ilm An-Nujum Wa Ushul Harakah As-Samawiyyah (Penjelasan Lengkap Tentang Astronomi dan Prinsip-Prinsip Gerakan Langit), Al-Kamil Fi Al-Usturlab dan lain-lain. Karya-karyanya itu hingga sekrang masih tersimpan dengan baik di Oxford, Paris, Kairo dan di Perpustakaan Princeton University, dengan berbagai macam judul.  Buku-bukunya banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi), yang kemudian disebarkan ke seluruh daratan Eropa
Karena itulah Nama Al-Farghani tersohor bukan hanya di dunia Timur, melainkan juga di dunia Barat.Di Barat ia dikenal dengan  Alfraganus. Inilah yang membuat al-Farghani dikenal sebagai pelopor Ilmu Astronomi. Salah satu karyanya yang fenomenal, The Elements of Astronomy (unsur-unsur astronomi), banyak membahas tentang gerakan-gerakan benda-benda langit. Karya ini diterjemahkan dari bahasa Arab  bahasa Latin pada awal abad ke-12, yang kemudian menjadi sangat terkenal di Eropa pada masa itu. Dalam karyanya itu, Al-Farghani banyak meneliti sekaligus menguji teori Ptolemia. Dari penelitinnya terhadap teori Ptolemy itu ia menyimpulakan bahwa kualitas dari gerakan saling mendahului dari benda langit, adalah dipengaruhi oleh planet-planet dan bintang-bintang. Dalam menentukan jarak palent-palent, Al-Farghani meneybutkan bahwa  tidak ada “ruang yang terbuang” dalam dalam universum yakni bahwa apogium sutau planet bersinggungan dengan apogieum planet lainnya. Setelah mem perinci jarak bintang-bintang dengan berbagai tingkat, dia juga memberikan jaraknya dengan bumi. Kalau Ptolemy hanya memberikan jarak Matahari dan bulan terhadap bumi, maka Al-Farghani bergerak lebih jauh.
Ia memberikan informasi soal jarak bintang-bintang yang lebih banyak.dia mengansumsikan bahwa jarak terjauh bumi dari kedua lingkaran bulan, yakni ke eksentris dan episiklis----adalah sama dengan jarak terpendek dari Markurius ke bumi. Dia menggunakan relasi yang telah ditentukan dan melanjutkan untk mengoperasi yang sama untuk planet Venus dan Merkurius. Al-Farghani mendapatkan bahwa jarak terjauh bumi dengan kedua orbit Venus bersamaan dengan jarak terpendek dari matahari, seperti telah ditentukan oleh Ptolemy. Dengan demikian, kata Al-Farghani, tidak ada kekosongan di antara langit-langit. Dia kemudian melakukannya untuk bintang-bintang yang lain di alngit hingga pada bintang-bintang yang tetap yang berpusat pada bumi.
Kepakaran Al-Farghani di bidang astronomi tersebut benar-benar juga oleh para ilmuwan abad modern.  Bahkan Al-Farghani juga dikenal banyak mempengaruhi pemikiran Dante. Hal ini ditunjukkan  olehPaget Toynbee, seorang ilmuwan Oxford pada abad ke-19,  ahli dalam pemikiran Dante, lewat karynya Vita Nouva dan Convivio. Dalam karyanya itu Toynbee menunjukan betapa besarnya pengaruh  al-Farghani terhadap pemikiran Dante . Setelah ia (Toynbee) membandingkan bagian-bagian tertentu dan meneliti kata-kata kunci dalam karya-karya  "Elements of Astronomy", Toynbee menyimpulkan, bahwa pembahasan Dante dalam karyanya The Vita Nouva, yang berisikan teori-teori tentang perbandingan antara planet-planet, tentang jarak Venus ke Bumi, Kutub dan Ekuator, dan Bintang-bintang tetap, adalah di dasarkan pada tulisan-tulisan al-Farghani. Toynbee juga menambahkan, " .... tulisan al-Farghani ini nampak menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi Dante, dan inilah bukti bahwa ia telah mempelajari dengan teliti karya al-Farghani". Dan karena Dante merasa berhutang banyak kepada al-Farghani bagi data-data astronomi, dan data lainnya sehubungan dengan karyanya yang lain (Convicio), Dante mengakui ke berhutangannya kepada al-Farghani.
*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota diskusi filsafat “ZAT Community” Yogyakarta.


Thursday, November 24, 2011

THOMAS ALVA EDISON, ILMUWAN DENGAN 1000 PENEMUAN



Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

Thomas Alva Edison pda prinsiinya bukan hanya ilmuwan hebat, melainkan juga sebuah fenomena yang patut dijadikan sebagai pelajaran. Bagaimana tidak. Sejak kecil ia disebut sebagai anak bodoh oleh guru-guru sekolahnya. Karena dikenal bodoh itulah ia akhirnya dikeluarkan paksa oleh gurunya dari sekolah dasarnya. Pendidikan formalnya hanya sampai pada kelas 4 SD. Tapi berkat kerja kerasny, meskipun tidak lulus SD, Edison terbukti mampu menggoncang dunia dengan sejumlah temuan-temuan ilmiahnya. Temuan-temuan ilmuahnya itulah yang mengukuhkan dirinya dikenal sebagai ilmuwan papan atas. Tidak lulus SD tapi mampu menjadi ilmuwan besar, hebat bukan?
Temuan Edison yang paling terkenal dan bisa dirsakan manfaatnya hingga sekarang adalah lampu pijar listrik. Sebelumnya, di Paris memang sudah ditemukan lampu listrik. Tetapi itu hanya sebatas untuk penerangan jalan. Edison kemudian mengembangkannya lampu pijar itu untuk penerangan di rumah-rumah dan gedung perkantoran. Thomas Alva Edison lahir di Milan, Amerika Serikat, pada 11 Februari 1847. Ia mempunyai karakter yang jarang dipunyai oleh kebnayakan orang yakni hobi membaca dan melalkukan berbagai eksperimen ilmiah. Dia tidak kenal lelah dan pantang menyerah dalam meneliti dan mengobservasi sesuatu. Ibunya sangat berperan besar dalam mendorong dan terus memberikan semangat kepada Edison kecil untuk kerja-kerja ilmiahnya, terutama paska dia diusir dari sekolahnya.dari semangat belajar dan kerja kerasnya serta perhatian penuh dari ibunya itulah, dia telah merubah sejarah manusia dari abad uap menjadi abad listrik.
Meskipun dia ilmuwan yang tidak lahir dari bangko sekolah, namun seluruh kehidupannya diabdikan untuk ilmu pengetahuan. Semangatnya dalam meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan melebihi para ilmuwan-ilmuwan yang lahir dari ruang kampus. Di laboratoriumnya di Menlo Park, New Jersey, Edison menjadi pelopor di bidang organisasi penelitian industri pertama di AS, dengan sebutan “Sang Penyihir” dari Menlo Park.
Sampai akhir hidupnya, Edison telah menghasilkan lebih dari 1000 penemuan. Temuan-temuannya yang paling populer antara lain: penyempurnaan telegraf, penyempurnaan telepon, fonograf, bola lampu, kinetoskop dan sebagainya. Dia sering mengatakan “aku berkonsentrasi terhadap apa yang dibutuhkan dunia dan kemudian bekerja keras untuk menemukannya”.
Pada tahun 1870 ia menemukan mesin telegraf yang lebih baik. Mesin-mesinnya dapat mencetak pesan-pesan di atas pita kertas yang panjang. Uang yang dihasilkan dari penemuannya itu cukup untuk mendirikan perusahaan sendiri. Pada tahun 1874 ia pindah ke Menlo Park, New Jersey. Disana ia membuat sebuah bengkel ilmiah yang besar dan yang pertama di dunia. Setelah itu ia banyak melakukan penemuan-penemuan yang penting. Pada tahun 1877 ia menemukan Gramofon. Dalam tahun 1879 ia berhasil menemukan lampu listrik kemudian ia juga menemukan proyektor untuk film-film kecil. Tahun 1882 ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya di dunia lampu listrik di pakai di jalan-jalan. Pada tahun 1890, ia mendirikan perusahaan General Electric.
Edison dipandang sebagai salah seorang pencipta paling produktif pada masanya, memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Ia juga banyak membantu dalam bidang pertahanan pemerintahan Amerika Serikat. Beberapa penelitiannya antara lain : mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi. Ia meninggal pada usianya yang ke-84, pada hari ulang tahun penemuannya yang terkenal, bola lampu modern.
Pada tahun 1928 ia menerima penghargaan berupa sebuah medali khusus dari Kongres Amerika Serikat.Kata kebajikan yang dikenang dari Thomas Alva Edison adalah: “Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju”
*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota diskusi filsafat ZAT Community Yogyakarta.

AL-KHAWARIZMI, BAPAK MATEMATIKA



 Oleh :Muhammad Muhibbuddin*


Al-Khawarizmi adalah ilmuwan genius dari kalangan muslim. Dialah pakar matematika dan penemu Al-Jabar. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Ia lahir pada 194 H (780 M) di Khwarizm (sekarang disebut Khiva), Uzbekistan. Pada masanya Khwarizm menjadi pusat penelitian ilmiah di Asia yang didatangi oleh banyak ilmuwan.
Nenek moyang Al-Khawarizmi, menurut At-Tabari, adalah orang imigran yang mendiami daerah Qurtubuli, sebuah kawasan di sebelah Barat Baghdad. Menurut At-Tabari, Al-Khawarizmi, merupakan seorang Zoroastrian sehingga dia menyebutnya Al-Majusi. Namun,bila dilihat dari karya-karyanya, khususnya Al-Gebra, Al-Khawarizmi adalah seorang muslim tulen bahkan ada yang menyebutnya sebagai seorng sufi. Sebab, sebagaimana ulama-ulma muslim lainnya, dalam karyanya dia selalu mengawalinya dengan bacaan Al-Hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Di antara karya-karyanya Al-Khawarizmi adalah Al-Jama Wat-Tafriq bi Hisab Al-Hindi (Book of Additional and Substraction the Methode of Clculation: Menambah dan Mengurangi dalam Perhitungan Hindu),  Kitab Al-Mukhtashar fi Al-Hisab Al-Jabra wa Al-Muqabala (buku tentang proses memadukan dan Menyamakan), Kita Al-Ardh (Book of Earth: Buku tentang Bumi), Miftahul Ilmi (Kunci Ilmu Pengethauan), Zij Al-Sindhid (Tabel astronomi)
Anak Pencerahan Islam
Bila dilihat dri sejarah hidupnya, Al-Khwarizmi merupakan salah ilmuwn muslim yang lahir dari rahim pencerahan Islam. Dia adalah ilmuwn yang diplih oleh Khalifah Al-Ma’mun untuk mengelola pusat riset dan kajian ilmu pengetahuan , Baitul Hikmah yang berpusat di Baghdad. Dalam sejarah pemikiran Islam, masa Al-Ma’mun adalah masa-masa keemasan Islam, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Puncak keemasan Islam di Baghdad telah merentang jauh dari era Harun Al-Rasyid hingga sampai generasi setelahnya, termasuk eranya Al-Ma’mun. Baitul Hikmah sendiri adalah sebuah penanda bagi pesatnya ilmu pengetahuan di era tersebut. Baitul Hikmah berdiri pada masa Harun Al-Rasyid. Kemudian setelah Harun Al-Rasyid wafar, maka digantikan oleh Al-Ma’mun. Karena cintanya terhadap ilmu pengetahuan begitu tinggi, maka Baitul Hikmah mendapat perhatian serius dari Al-Ma’mun sehingga bisa berkembang pesat dan menjadi marcusuar peradaban dunia kala itu.
Sebagai bentuk konkret perhtiannya pada ilmu pengethauan, Al-Ma’mun menghimpun para ilmuwan dari berbagai displin ilmu pengetahuan untuk berkumpul dalam Baitul Hikmah untuk meneliti, mengkaji, menterjemahkan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain mengemabngkan pusat riset dan kajian ilmu pengethauan Baitul Hikmah, Al-Ma’mun juga membangun pusat Observatorium di bukit Qaysun, Damascus dan Baghdad. Dia tidak tak henti-hentinya mendorong dan memfasilitasi para sarjana dan ilmuwan untuk melakukan kerja-kerja ilmiah. Hasilnya ternyata luar biasa. Terbukti bnyak karya-karya masterpiece yang lahir baik itu hasil terjemahan maupun hasil tulisan sendiri dari penulisnya.
Al-Khawarizmi adalah salah satu ilmuwan yang mendapat perhatian dn fasilitas dari khalifah Al-Ma’mun tersebut. Sebagaimana para ilmuwan lainnya, sejak di Baitul Hikmah, dia mendapat berbagai fasilitas dan dukungan kuat dari khalifah untuk mengemban misi ilmiah. Karena itu, ia terpacu dan semakin semangat mengembangkan bakat intlektualnya. Bakat intlektual yang menonjol dari Al-Khawarizmi adalah di bidang Matematika dan astronomi. Para ilmuwan muslim pada waktu itu sudah mempunyai pandangan bahw astronomi merupakan disiplin ilmu yang membutuhkan disiplin matematika dan observasi. Maka akhirnya bisa dibuktikan bahwa Al-Khawarizmi bisa menguasai dan mengembangkan dua disiplin ilmu tersebut melalui karyanya Al-Jabru Wal Muqabala. Atas dukungan Khalifah Al-Ma’mun itulah dia menyatakan, “Aku telah mendapat dorongan dari khalifah Al-Ma’mun, berkat kekuasaan yang diwarisinya dan kebesaran yang dimilikinya, sangat sopan dan ramah, beliau merangkul para kerbat dan sahabt dekatnya untuk memberi bantuan kepada mereka untuk menjelaskan apa yang sulit dan memudahkan sesuatu yang susah, yang kemudian mendorongku untuk menyusun buku “Al-Jabra wal Muqabala”.
Dengan karyanya tersebut maka semakin mengukuhkan Al-Khawarizmi sebagai pakar matematika yang diakui oleh para ilmuwan sesudahnya baik di Timur maupun di Barat. Begitu juga dalam bidang astronomi. Dengan memanfaatkan pusat-pusat observatorium yang dibangun oleh khalifah, ia terus melakukan penyelidikan-penyelidikan ilmiah sehingga penemuan-penemuannya banyak bermanfaat bagi pengembangan sains dan matematika.
Pemimpin dan Ilmuwan
Salah satu makna yang bisa dipetik dari sejarah intelektual Al-Khawarizmi adalah terjadinya budaya kerja sama dan bahu membahu antara ilmuwan dengan pemimpin politik. Ilmu pengetahuan dan peradaban besar dalam sebuah bangsa atau negara bisa lebih berkembng pesat kalau memang para ilmuwannya mendapatkan dukungan yang kuat dari pemimpin. Hal ini tercermin dari Khalifah Harusn Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun yang begitu intensif memperhatikan para ilmuwannya. Pemimpin yang dilimpahi kekuasaan tentunya sangat penting perrannya dalam hal memberikan fasilits dan dukungan material maupun moral bagi para ilmuwan untuk mengeksplorasi ilmu pengethuan yang sngat berguna bagi kemajuan bangsa dan negara. Begitu juga sebaliknya, para ilmuwan dan sarjana harus bersikap obyektif , jujur dan amanah dalam menggunakan dan mendayagunakan secara maksimal atas berbagai fasilitas yang diterima dari pemimpin dan rakyat untuk mengembangkan dan menemukan ilmu pengethauan yng bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat bangsa dan negara.
Dalam konteks Indonesia sekarang, belum ada geliat perhatian pemerinth yang maksimal terhadap para ilmuwan. Para ilmuwan dna manusia genius di Indonesia dibiarkan terlantar oleh pemerinth sehingga justru dimanfaatkan oleh negara-negara lain. Banyak para ilmuwan dan peneliti Indoensia di berbagai bidang ilmu pengetahuan yang harus pensiun dini kemudian mencari kerja ke luar negeri karena fasilitas dan insentif dari pemerintah sangat minim. Bahkan ada yang sejak awal ketika kuliah di luar negeri tidak mau kembali ke Indonesia karena lebih tertarik dengan tawaran fasilitas dn gaji yang luar biasa besar dari pemerintah asing. Karena itu wajar kalau Ilmu pengetahuan di Indonesia sulit berkembang karena para ilmuwannya banyak yang disia-siakan oleh pemerintahnya. Yang berkembng subur justru para koruptornya. Sungguh ironis negara ini.
*Muhammad Muhibbuddin adalah anggota diskusi filsafat “ZAT Community” Yogyakarta.